Politik Kantor

Politik kantor adalah hal yang biasa terjadi disetiap lingkungan kerja. Saya sendiri pun mengalami dan merasa sangat dirugikan oleh politik kantor ini. Karena-nya saya menyempatkan diri mencari dan menggali segala sesuatu tentang politik kantor agar bisa ‘survive’ menghadapi-nya.

Dimulai dari pengertian politik kantor. Menurut saya yang paling pas adalah : Kegiatan yang dilakukan untuk membuat suasana kerja di kantor menghasilkan keuntungan terbaik untuk golongan tertentu ataupun pribadi, entahkah dengan jalan yang merugikan orang lain maupun tidak. Pekerja yang melakukannya dapat menggunakan cara-cara untuk memanipulasi kelompok tertentu agar idenya mendapat dukungan (sumber: http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com)

Lalu kenapa politik kantor bisa terjadi. Menurut kami pribadi (berdasar pengalaman) politik kantor terjadi karena :

    1. Perusahaan tidak/belum memiliki Key Performance Indicator yang bisa menunjukan kinerja setiap karyawan serta jobdesk/uraian kerja karyawan yang mungkin belum diatur secara rinci sehingga memungkinkan ‘tabrakan’ dalam pekerjaan.
    2. Karyawan yang direkrut tidak sesuai dengan keahlian dan perusahaan tidak memberikan pelatihan yang tepat. Sebagai contoh banyak perusahaan yang mengangkat supervisor sales /manager sales & marketing dari karyawan yang sebelum-nya menjadi sales. Ini tidak sepenuhnya salah, namun jika perusahaan tidak memberikan pelatihan yang tepat maka karyawan tersebut akan mengalami kesulitan karena tadinya mereka hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri sekarang mereka memiliki staff yang harus diarahkan dan dimotivasi untuk mencapai tujuan. Ketidak mampuan ini harusnya disikapi dengan memberi bekal yang tepat untuk karyawan tersebut. Atau inisiatif dari karyawan tersebut untuk membaca buku/ ikut seminar yang sesuai untuk meningkatkan performance-nya. Namun harus diakui pula bahwa butuh effort dan biaya cukup besar untuk ke-dua hal diatas. Sehingga akhirnya karyawan lebih memilih jalan pintas untuk berprestasi yaitu : Jurus 3P (PENCITRAAN, PENJILAT dan PENGHASUT).
    3. Pimpinan/Leader yang kurang peka dan mudah dipengaruhi oleh bawahan yang menggunakan Jurus 3P tadi. Pimpinan objek vital bagi para ‘pemain’ politik kantor. Dimulai dari pencitraan, mendekati pimpinan baik dengan cara yang biasa maupun menjilat sampai kemudian memberikan masukan, cerita yang belum tentu benar serta pandangan yang bias sehingga pimpinan terpengaruh. Dan tahap selanjutnya adalah tahap MENYINGKIRKAN yang tidak sependapat. Masukan/ pendapat bawahan lain akan dianggap perlawanan sedang apabila datang dari ‘pemain’ akan langsung diterima, hal ini dikarenakan pimpinan sudah gelap/tidak objektif teracuni oleh politik kantor.

Sebenar-nya ada juga hal positif dari politik kantor, misalnya kita memiliki IDE maka kita mulai menjaring dukungan dari rekan kerja, manager dan pimpinan sehingga ide diterima dan tidak ada yang dirugikan. Namun sekali lagi ‘effort’ nya besar dan orang ‘bodoh’ lebih suka jalan pintas dengan mengorbankan rekan kerja. Siapa korban-nya? Tidak penting, yang penting ‘pemain’ sampai ditujuan.

Lalu bagaimana menghindarkan politik kantor? Bagi level saya sekarang yang belum memiliki kekuasaan untuk membuat KPI dan ketentuan reward & punishment cuma ada satu cara yaitu bekerja dengan baik dan tidak membicarakan kejelekan orang/rekan kerja serta yang paling penting tidak bergosip.

Namun kalau ada pembaca blog saya yang merupakan Leader, ini saran dari www.andriewongsong.com : Pastikan Anda memiliki Key Performance Indicator yang menunjukkan kinerja setiap karyawan dan jangan toleransi tindakan indisipliner, tidak kompeten, atau rendahnya motivasi dengan senantiasa melakukan regular coaching.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *